Politik Simbol Pemilu dan
Perspektif Antropologi
oleh: Darmiyenti sherli
oleh: Darmiyenti sherli
kini
disemua kalangan masayarakat disuguhkan oleh berbagai the politics of
symbolisme (politik simbol) yaitu suatu
tindakan untuk mempresentasikan gejala sosial, dalam hal ini realitas
kemiskinan masyarakat yang diwujudkan dalam simbol yang merefleksikan makna
politik tertentu (Geertz 1973 ; Gupta & Ferguson 1992). Politik simbol
sering digunakan oleh para caleg untuk menarik perhatian masyarakat guna
mempromosikan diri, dengan cara datang kekampung-kampung memberikan suatu
bingkisan khusus atau berupa sejumlah uang untuk masyarakat setempat.
Rumah-rumah wargapun dijadikan tempat untuk memasang baliho yang juga
diiming-imingi dengan uang sebagai tanda terimakasih dan akhirnya menjadi tim
sukses dari para caleg. Cara seperti ini tidak menjadi rahasia umum lagi,
bahkan sebagian masyarakat menjajakan diri guna memberikan jasa mempromosikan
para caleg.
Dana untuk motif politik simbol
Para
caleg sangat berambisi besar demi mengantongi 70 juta suara. Dari berbagai
macam politik simbol yang dilakukan para caleg, bisa dilihat dari jumlah dana
yang harus disediakan demi meraih suara terbesar sehingga bermacam motif
politik simbolpun dilakukan. Dana capres yang dilaporkan oleh KPU (komisi
pemilihan umum) hanya Rp 300 miliyar-Rp 500 miliyar. Perhitungan ini dimulai
sejak tahapan resmi KPU dimulai “kata Indra dalam diskusi “Mahalnya ongkos
nyapres”, dijakarta, sabtu (25/1 : media umat). Namun pengamat politik
Universitas Indonesia Donny Tjahya Rimbawan punya prediksi berbeda. Menurutnya,
capres butuh setidaknya Rp 7 triliun, tegasnya pada media umat, senin (3/2).
Menurut Donny seorang capres harus bisa menggoda hati 70 juta pemilih.
Perhitungan Donny berdasarkan UU Pilpres yang menggariskan bahwa pasangan
capres-cawapres dapat dikatakan menang jika sanggup mengantongi 70 juta suara
atau 2/3 dari seluruh provinsi di Indonesia. “menghitungnya gampang saja, kalau
total 70 juta dikali Rp 100 ribu saja kan sudah Rp 70 triliun yang mesti
dikeluarkan para capres. Rp 100 itu bisa digambarkan dalam bentuk uang tapi
bisa dalam bentuk sembako, sarung atau kerudung. Itu baru untuk menggoda
pemilih secara langsung, belum termasuk biaya spanduk, stiker, kaos, biaya
perjalanan, pengumpulan massa dan biaya insidental lainnya, maka bisa lebih
dari Rp70 triliun, “terang Donny kepada media ummat”.
Lain
halnya dengan yang disampaikan oleh pengamat politik dari Charta Politika Arya
Fernandes menyebutkan, alokasi terbesar dana kampanye itu adalah untuk iklan.
Biaya itu kian mahal dengan munculnya konsultan politik mematok Rp 250 juta-Rp
300 juta. Selama setahun capres bisa melakukan 3 kali survei. Dari dana sebesar
itulah capres melakukan berbagai macam politik simbol, untuk bisa duduk dikursi
kepresidenan. Dana besar yang telah diakomodasikan oleh caleg terdapat pula
unsur politik balas budi, transaksi timbal balik yang tidak akan selalu
bersifat simetris sempurna dan juga tidak selalu mengimplikasikan kesetaraan
antara yang memberi dengan yang menerima. Pada banyak kasus, pihak yang memberi
dipandang bersifat lebih superior daripada sipenerima dalam artian moral atau
bahkan material. Dimana mereka menikmati rasa superioritas hingga hadiah
pemberian mereka mendapat balasannya yang mungkin bahkan lebih besar lagi yaitu
suara, meski hanya dihadiahi uang senilai Rp 100 saja.
Perspektif Antropologi
Politik
simbolisme yang banyak dilakukan oleh para caleg dengan dana yang cukup besar,
mengakibatkan perubahan sosial budaya suatu masyarakat. Seperti dana capres
yang dialokasikan disebuah desa untuk diberikan kemasyarakat bisa dalam bentuk
uang, sembako dsb. Hal tersebut dilakukan oleh tim sukses caleg yang sudah
diajak bekerja sama, seperti kepala desa yang berperan besar didesa tersebut.
Teori
A.R.Radcliffe-Brown (1881-1955) tentang struktural fungsional yang tampak. Fungsi
struktur sosial didalam masyarakat seperti kepala desa, camat dsb dijadikan
oleh para caleg untuk melakukan politik simbol, karena fungsi struktur yang
dimiliki oleh kepala desa atau camat punya peran besar dan memiliki pengaruh
sehingga memudahkan para caleg melakukan praktek politik simbol. Banyak teori
yang disajikan antropologi untuk membahas politik simbol. Melalui sistem
kekerabatan politik simbol juga bisa dilakukan, karena hubungan darah memiliki
keterikatan yang cukup kuat. Atau jaringan sosial melalui pendekatan dengan
individu atau kelompok masyarakat untuk memperluas kepentingan politik.
Antropologi bagi Indonesia
Pertanyaan
tentang “arti antropologi bagi indonesia masa ini”, seperti yang diajukan oleh
Koentjaraningrat (1969), atau the call for indigenization,” seperti yang
ditulis Yogesh Atal (1981), bukanlah suatu pemikiran kritis yang baru terhadap
Antropologi. Perilaku sosial dikalangan capres cenderung hipokrit dibalik
kepentingan politiknya.
Didalam
persoalan suatu bangsa diperlukannya pemikiran tentang ahli-ahli ilmu sosial
yang mengembangkan disiplin ilmunya sesuai dengan kondisi sosial politik dan
nilai-nilai kultur masing-masing masyarakat. Ditengah persoalan besar itu,
Antropologi menyajikan pula tanggapan yang menghubungkan dengan teorinya.
Meskipun Antropologi masih sangat awam dikalangan masyarakat dan dianggap tidak
relevan bagi pembangunan indonesia. Banyak konsep yang dimiliki oleh
antropologi untuk menjawab masalah model pembangunan yang tidak berjalan
efektif, seperti integritas nasional. Integritas nasional yang membahas mengenai
proses pengaturan kelompok-kelompok yang berbeda secara sosial dan kultur
kedalam satu kesatuan teritorial tunggal dengan satu identitas nasional (Weiner
1965 : “political integration and political development”).
Indonesia
belumlah memiliki konsepsi nasional yang jelas mengenai masyarakat seperti apa
yang ingin dituju dengan usaha pembangunan saat ini, hal ini mengartikan bahwa
lemahnya mentalitas pembangunan indonesia. Ditambah lagi hilangnya krisis
kepercayaan terhadap model pembangunan indonesia. Dan banyak pula kasus ketidak
inginan ikut berpartisipasi dalam pemilu, yang berarti ada krisis kepercayaan
ditengah masyarakat. Namun pembahasan mengenai antropologi tidak digunakan
dalam ranah politik indonesia, padahal antropologi mampu mengkajinya dari segi
sosiokultural indonesia. Yang seharunya para caleg juga harus paham dengan
konsep itu, agar kepentingan politik berubah menjadi kemajuan politik.
Karena
sangat penting suatu kebudayaan mentalitas dalam pembangunan, disertai dengan
pribadi suatu bangsa yang melebihkan bahwa akan adanya suatu pembangunan karena
karya masyarakat yang berbudaya. Banyak teori yang ditemukan oleh para pengamat
politik, namun tak kunjung usai persoalan. Sesudah revolusi banyak problematika
salah satunya pembangunan, yang mensyaratkan adanya suatu nilai budaya yang
berorientasi kemasa depan, suatu sifat hemat , suatu hasrat untuk
bereksplorasi, dan berinovasi, suatu pandangan hidup yang menilai tinggi
achievement dari karya, suatu nilai budaya yang kurang berorientasi vertikal,
suatu sikap lebih percaya kemampuan sendiri (Koentjaraningrat). Sifat seperti
ini belumlah secara mantap ada pada bangsa indonesia.
Pemilu
yang akan diadakan tanggal 9 april nanti akan menjadi sejarah baru bagi
indonesia, siapakah yang akan memimpin negeri ini untuk 5 tahun kedepan?
perubahan seperti apa yang akan membawa bangsa ini pada kesejahteraan? model
pembangunan seperti apa yang akan dilakukan?
Post-modernitas,
globalisasi politik dan ekonomi, kemajuan teknologi informasi, industrialisasi
dan deindustrialisasi, fundamentalisme agama, konflik etnik, kemiskinan dan
pengangguran, urbanisasi, degradasi moral bangsa, perubahan pola institusi
keluarga, dan lain-lain. Yang makin menjadi fenomena global sejak kira-kira
1980-an telah memojokkan antropologi kedalam suatu situasi yang tidak menentu.
(Marzali : 2012 : Antropologi & Kebijakan Publik). Masalah ini yang akan
ditangani oleh pemimpin baru yang akan terpilih ditanggal 9 april nanti.
Tidak
bisa kalau hanya mengandalkan model pembangunan indonesia saat ini, ada yang
harus dipahami, bahwa indonesia beragam etnik dan kepercayaan dan harus sesuai
dengan kultur masing-masing agar mempermudah suatu masyarakat untuk berkembang.
Pembangunan indonesia tidak akan terjadi jika kepentingan politik masih
membudaya, ditambah lagi politik kekerabatan yang sukar memudar. Penguasaan
konsep kultur memang sesuatu yang mendasar keperluannya bagi antopologi untuk
memberikan sumbangan ide bagi bangsa indonesia kedepannya.
Referensi
Marzali,Amri.Antropologi &
Pembangunan Indonesia.jakarta:kencana,2009.
John;peter just.Antropologi Sosial
& Budaya.Medan:penerbit BINA MEDIA PERINTIS,2008.
Koentjaraningrat.Kebudayaan
Mentalitas dan Pembangunan.jakarta:Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,1974.
Marzali,Amri.Antropologi &
Kebijakan Publik.jakarta:Penerbit KENCANA PRENADA MEDIA GROUP,2012.
Komentar
Posting Komentar